Feeds:
Posts
Comments

From tomi.blogdetik.com

Saya sama sekali tidak menyangka bahwa akhirnya kantor saya memutuskan untuk melisensikan penggunaan software dari Microsoft. Soalnya, tadinya saya sudah bersiap-siap untuk migrasi total ke Open Source. Bukan hanya saya saja, tapi sudah sekitar 80% dari komputer-komputer yang ada di kantor saya sudah saya pasangi dengan sistem dual-boot. Maksudnya, ketika komputer dinyalakan, orang dapat memilih, mau masuk ke Windows atau masuk ke Linux; yang dalam hal ini saya memilih distro Mandriva. Sementara itu, pada Windows-nya pun sudah saya saya pasangi program Open Office, supaya karyawan sudah mulai membiasakan diri menggunakannya, instead of program office dari Microsoft itu.
Alasan untuk migrasi ke Open Source barangkali jelas. Untuk melisensikan program buatan Microsoft itu diperkirakan memerlukan biaya besar. Meskipun besarnya persis belum tahu berapa, tapi mendengar dari seorang teman yang kantornya harus mengeluarkan sekitar 90 juta per tahun untuk keperluan lisensi, saya menjadi ciut. Saya pikir, tipis harapan kantor saya bisa melakukan hal yang sama. Maka ya solusi mudahnya adalah pindah ke Open Source, meski tidak mudah. Tidak mudah buat saya sendiri, dan juga buat teman-teman yang lain satu kantor, di mana akhirnya saya yang harus bertanggungjawab mengajari mereka menggunakannya.
Sampai suatu ketika, tidak ada angin atau tanda apa-apa, datanglah sebuah surat dari Microsoft. Persisnya surat itu datang tanggal 1 April 2008. Isinya adalah sebuah penawaran untuk MCA, alias Microsoft Campus Agreement. Microsoft Campus AgreementSetelah saya baca dan pikirkan, memang betul bahwa judulnya adalah penawaran, tapi bukankah kalau kantor saya menolak tawaran itu sama saja dengan menegaskan bahwa software yang digunakan sekarang ini tidak legal ? Software di sini tentu saja adalah software buatan Microsoft. Meskipun saya bilang bahwa kantor saya dalam proses transisi ke Open Source, ya tetap saja de facto, software Microsoft yang digunakan sebelumnya dan yang sekarang ini masih belum terlisensi. Siapa yang tidak malu kerja di sebuah kantor yang menggunakan produk curian / ilegal, apalagi bidang kantor saya itu adalah pendidikan yang semestinya memberikan contoh baik ke masyarakat.
Segera setelah surat itu sampai ke meja pimpinan saya, beliau memerintahkan saya untuk mempercepat migrasi ke Linux yang akan diawali dengan pelatihan kembali tentang distro yang digunakan, dan terutama penyegaran kembali tentang penggunaan Open Office. Sementara itu saya juga diminta untuk menjajagi, kalau memang harus melisensikan software Microsoft, berapa biaya yang dibutuhkan. Dua pekerjaan ini saya lakukan sekaligus, di samping pekerjaan-pekerjaan rutin sehari-harinya di kampus.
Untuk pelatihan, sudah saya assign ke beberapa teman untuk membantu saya. Saya kira itu bukan masalah besar, karena saya sudah melakukan itu sebelumnya di akhir tahun 2007 lalu. Tinggal mengulanginya lagi. Yang jadi masalah adalah soal lisensi ke Microsoft itu. Yang ini saya lakukan dengan mengirim email yang ada di surat yang datang ke kantor saya. Persisnya, surat itu datang dari PT. Microsoft Indonesia bagian Education Account Manager. Setelah beberapa kali email, saya mendapat informasi bahwa untuk keperluan lisensi itu tidak bisa langsung berurusan dengan PT. Microsoft Indonesia karena perusahaan itu tidak melakukan penjualan secara langsung. Saya lalu menerima email yang juga di forward ke PT. Nettrain Indonesia; sebuah perusahaan yang ditunjuk untuk melakukan penjualan dan juga lisensi. Ke Nettrain itulah selanjutnya saya melakukan korespondensi.
Dari Nettrain, saya mendapatkan penjelasan yang dulu juga sudah saya peroleh tentang bagaimana caranya melisensikan produk Microsoft, yaitu dengan terlebih dahulu menghitung apa yang disebut FTE (Full Time Equivalent). Rumusnya adalah (jumlah personil tetap) + (jumlah personil tidak tetap yang dibagi tiga) + (jumlah staf tetap) + (jumlah staf tidak tetap yang dibagi tiga). Di kantor saya tidak ada personil tidak tetap maupun staf tidak tetap. Totalnya jumlah yang ada di kantor saya adalah 108. Selanjutnya saya kirimkan informasi itu ke Nettrain, dengan tambahan keterangan bahwa produk yang dilisensikan hanya dua saja, yaitu Microsoft Windows XP dan Microsoft Office 2003. Pertimbangannya tentu saja adalah dengan hanya melisensikan dua produk saja, saya berharap kantor saya tidak akan membayar terlalu mahal. Tapi ternyata saya salah !
Nettrain lalu mengirimi email ke saya dengan tiga alternatif lisensi. Pertama, dengan menggunakan FTE 108 dan hanya melisensikan 3 produk (selain Windows dan Office, si Nettrain ini lalu mengusulkan menambah dengan Encarta), biaya yang harus dibayarkan per tahunnya adalah $ 5076, yang dengan kurs rupiah sekarang (9.300) berarti sekitar 47 jutaan. Kedua, saya juga diberi alternatif supaya tidak usah bayar per tahun, jadi sekali bayar dan langsung licensed selama-lamanya, atau yang menurut Nettrain adalah “beli putus” atau Open License. Dengan sistem ini ternyata pembelian harus minimal 5 unit produk. OK, di email yang saya terima ada lima produk yang disarankan, yaitu XP Starter Kit, Vista Upg Open License, XP Media Kit, Office Enterprise Open License, dan Office Enterprise Media Kit. Yang mengejutkan adalah harganya. Untuk membeli putus ke lima produk itu harganya adalah $ 9167,4, alias 85 jutaan!. Meski mahal, tapi dengan harga itu, tidak perlu harus membayar lagi per tahunnya, dan tidak akan diberikan support yang berkelanjutan, seperti diberikannya patch, bug fix, update, upgrade, dan sebagainya.
Nah, pilihan ketiga inilah yang aneh. Ternyata Microsoft itu punya pilihan apa yang disebut Minimum FTE, yaitu sebesar 25. Saya bilang aneh karena ternyata untuk melisensikan produknya, kalau begitu, Microsoft tidak selalu harus menggunakan rumus yang dicanangkannya sendiri. Maksudnya, FTE di kantor saya kan 108, nah kok saya disarankan bisa menggunakan FTE 25 ? Saya pikir tadinya angka 25 itu berarti ada pembatasan-pembatasan tertentu dalam hal lisensinya, tapi ternyata tidak. Artinya, apakah jumlah komputer pengguna softwarenya akan dibatasi, ternyata tidak. Jumlah orangnya dibatasi, ternyata tidak juga. Apakah kalau nanti menambah komputer baru lagi, maka software yang dipasang di dalamnya akan harus dilisensikan tersendiri lagi ? Ternyata tidak juga! Jadi, singkat kata. Pokoknya kalau dilisensikan dengan FTE 25 itu semua software Microsoft yang digunakan komputer-komputer di kantor saya akan dinyatakan sah digunakan, alias terlisensi, berapapun banyaknya. Biaya yang harus dibayarkan untuk FTE minimum ini adalah $ 1855 alias sekitar 17 juta.
Well, mungkin sebenarnya bukan semua software Microsoft yang akan terlisensi, tapi software-software tertentu yang diajukan oleh Nettrain, yang anehnya lagi justru malah lebih banyak jumlahnya. Saya hitung, ada 10 software berikut ini : (Saya tulis persis)

  1. Windows Vista Business All Lng Upg/SA Pack MVL w/VisEnterprise
  2. Office Enterprise All Lng Lic/SA Pack MVL Campus
  3. Windows Server CAL All Languages Lic/SA Pack MVL Device CAL
  4. Office SharePoint Designr All Lng Lic/SA Pack MVL
  5. Student with Encarta Prem All Lng Lic/SA Pack MVL
  6. Dsktp Optimization Pck SA All Lng MonSub MVL PerDevice for WinSA
  7. Publisher Win32 All Languages Lic/SA Pack MVL
  8. Visual Studio Pro All Lng Lic/SA Pack MVL
  9. Visio Pro Win32 AllLanguages Lic/SA Pack MVL
  10. Windows Svr Std All Lng Lic/SA Pack MVL

Malah ada beberapa software yang saya tidak tahu apa kegunaannya ! Tapi yang jelas lebih banyak, dan yang penting, lebih murah.
Saya lalu bawa ketiga alternatif itu ke rapat. Sementara dari majalah saya dapati juga alternatif lainnya, yaitu sistem penggunaan software seperti pulsa HP, alias penggunaan software secara pra-bayar. Jadi, harus bayar dulu sejumlah uang, baru nanti softwarenya bisa digunakan untuk periode tertentu. Kalau periodenya habis atau terlewati, maka softwarenya tidak akan bisa terpakai. Pilihan yang ok juga, tapi jelas tidak akan cocok untuk keperluan kantor saya. Dari semua alternatif yang saya ajukan, ternyata, suprisingly, forum rapat menyetujui untuk melisensikan penggunaan software Microsoft, yaitu dengan pilihan FTE yang minimum itu.
Keputusan itu betul-betul tidak saya duga. Itu berarti, pelatihan Linux tidak perlu dilakukan lagi. Selanjutnya saya melanjutkan korespondensi dengan Nettrain yang isinya beberapa pertanyaan pada forum rapat itu. Lebih baik uraiannya akan saya sampaikan pada entry blog berikutnya nanti. Yang jelas, sampai tulisan ini dibuat, proses pelisensian belum selesai, namun terus berjalan. Ujungnya nanti adalah berupa acara seremonial penandatanganan antara kantor saya dan PT. Microsoft Indonesia.
(bersambung ke entry berikutnya nanti)

One Response

  1. good info gan
    bisa minta contact netrain bos ? saya juga mau melicensi komputer yang ada di sekolah



Comments RSS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: